KARMAPHALA (Keyakinan terhadap hukum Karma).


Karmaphala terdiri dari dua kata yaitu karma dan phala, berasal dari bahasa Sanskerta. "Karma" artinya perbuatan dan "Phala" artinya buah, hasil, atau pahala. Jadi Karmaphala artinya hasil dari perbuatan seseorang.
Kita percaya bahwa perbuatan yang baik (subha karma) membawa hasil yang baik dan perbuatan yang buruk (asubha karma) membawa hasil yang buruk. Jadi seseorang yang berbuat baik pasti baik pula yang akan diterimanya, demikian pula sebaliknya yang berbuat buruk, buruk pula yang akan diterimanya. Karmaphala memberi keyakinan kepada kita untuk mengarahkan segala tingkah laku kita agar selalu berdasarkan etika dan cara yang baik guna mencapai cita- cita yang luhur dan selalu menghindari jalan dan tujuan yang buruk.
Phala dari karma itu ada tiga macam yaitu:
1 Sancita Karmaphala Phala dari perbuatan dalam kehidupan terdahulu yang belum habis dinikmati dan masih merupakan benih yang menentukan kehidupan kita sekarang.
2 Prarabda Karmaphala Phala dari perbuatan kita pada kehidupan ini tanpa ada sisanya lagi.
3 Kriyamana Karmaphala Phala perbuatan yang tidak dapat dinikmati pada saat berbuat sehingga harus diterima pada kehidupan yang akan datang.

Dengan pengertian tiga macam Karmaphala itu maka jelaslah, cepat atau lambat, dalam kehidupan sekarang atau nanti, segala pahala dari perbuatan itu pasti diterima karena sudah merupakan hukum. Karmaphala mengantarkan roh (atma) masuk Surga atau masuk neraka. Bila dalam hidupnya selalu berkarma baik maka pahala yang didapat adalah Surga, sebaliknya bila hidupnya itu selalu berkarma buruk maka hukuman nerakalah yang diterimanya. Dalam pustaka- pustaka dan ceritera- ceritera keagamaan dijelaskan bahwa Surga artinya alam atas, alam suksma, alam kebahagiaan, alam yang serba indah dan serba mengenakkan. Neraka adalah alam hukuman, tempat roh atau atma mendapat siksaan sebagai hasil dan perbuatan buruk selama masa hidupnya. Selesai menikmati Surga atau neraka, roh atau atma akan mendapatkan kesempatan mengalami penjelmaan kembali sebagai karya penebusan dalam usaha menuju Moksa.

Karma Phala dikenal di agama Hindu sebagai agama Universal jadi semua orang baik dari manapun dapat membaca ini. Jika anda ingin tahu lebih jauh dari arti hukum karma phala mari kita baca artikel yang sederhana ini.
Karma Phala merupakan hukum sebab akibat yang berlaku untuk semua makhluk hidup di Dunia. Hukum ini merupakan hukum yang terorganisir jauh lebih baik dari pada teknologi, tidak dapat dihindari dan bersifat Universal(untuk semua makhluk). Pada kehidupan kita sekarang yang kita bawa merupakan hasil dari karma yang kita lakukan dikehidupan yang sebelumnya. Rupa muka, Tempat dilahirkan, Keluarga dan Semua orang yang pernah kita temui merupakan pengaruh karma phala. Contoh : Keluarga merupakan orang yang sangat dekat dengan kita itu pula karma kita sangat dekat dengan ayah,ibu, dan saudara kita menjadikan kita terlahir di Keluarga itu. Karma itu andaikan buah yang kita tanam jika kita menanam buah mangga maka kita juga akan memetik buah mangga tersebut. Dalam kata lain karma akan terus berlangsung selama kita masih tidak sadar bahwa hidup ini maya jadi kita hanya bisa tabah dan jangan terpancing oleh lautan neraka ini.
Karma itu bersifat sangat teliti, terorganisir dan tidak ada orang yang bisa lari dari karmanya sendiri. Banyak orang berkata “mari kita menebus dosa kita agar dosa-dosa kita bisa hilang”, sebenarnya tidak ada yang namanya dosa yang ada hanyalah karma baik(yang kita kenal pahala) dan karma buruk(yang kita kenal dosa). Sejujurnya
karma buruk itu tidak bisa dihapus ataupun dihilangkan karena jika kita pernah melakukan perbuatan buruk pada orang lain maka mau tidak mau kita harus menerima kembali hasil dari perbuatan kita. Contohnya : Jika kita menghina orang lain maka didalam hati orang lain itu akan terluka dan beberapa detik kemudian anda akan ditampar.
Karma yang kita lakukan secara menyakiti rohani bukan berarti kita akan di hina juga tetapi kita harus menerima sakit yang sama yang dirasakan oleh orang yang kita hina, seperti ditampar.
Andaikata anda memiliki orang yang dicintai dan orang yang anda benci, lalu pada suatu hari anda dipukul oleh orang yang anda benci, pasti anda langsung emosi dan bisa-bisa anda balik memukulnya. Sedangkan jika anda dipukul oleh orang yang anda cintai maka pukuln itu akan terasa berbeda walaupun kuat pukulannya sama tetapi perasaan waktu dipukul itu berbeda maka anda pun tidak marah karena itu orang yang anda cintai, bukan begitu !..

Yang membuat karma buruk kita tergantung pada sakit yang dirasakan yang dirasakan oleh orang. Sedangkan karma baik kita tergantung pada rasa bahagia yang dirasakan orang oleh karena perbuatan kita.
Oleh karena itu jika anda dihina bahkan dilecehkan orang lain maka bertabahlah karena nanti orang yang menghina anda akan merasakan sendiri rasa sakit yang anda rasakan, sebaliknya jika anda terpancing dan menghina balik maka anda pun sama halnya dengan dia dan akan menerima karma anda sendiri.
Segala pertemuan kita dengan orang lain tidak ada yang kebetulan, pertemuan kita dengan orang lain juga merupakan ikatan karma kita yang menjadikan kita bertemu dengan orang itu. Andaikata kita mencoba lari dari orang itu tetapi takdir kita menentukan akan bertemu maka cepat ataupun lambar kita akan bertemu juga. Jika kita iri pada orang lain entah orang itu lebih kaya pada materi, rupa ataupun raga janganlah kita katakan Tuhan itu tidak adil karena semua yang terjadi pada diri kita baik hidup kita, tempat kita dilahirkan ataupun rupa itulah hasil dari perbuatan/karma kita sendiri. Banyak orang berkata bahwa semua itu hanyalah takdir jadi ikhlas saja, pernyataan itu tidak sepenuhnya benar karena walaupun takdir dari hasil karma kita sudah ditentukan sejak kita lahir tetapi kita harus tetap berusaha agar karma baik tetap berjalan baik dan karma buruk dapat di netralisir. Kata di netralisir bukan berarti karma buruk kita hilang dan kita bisa bebas dari karma itu, karena seperti yang saya telah katakan bahwa karma itu tidak bisa dihapus tetapi bisa diringankan jika kita rajin beribadah dan bertobat maka tidak ada yang tidak mungkin karena Tuhan itu maha baik, belum lagi pertolongan dari karma baik kita yang ikut membantu menetralisir karma buruk kita. Jadi diringankan agar karma buruk kita tidak terlalu terasa sakit. Contohnya : Pada siang hari, pada waktu itu suhu sekitar 32 derajat Celcius(anggap bahwa terik matahari itu merupakan karma buruk kita) lalu ada terpaan angin kencang dengan kecepatan 32kilometer/jam(anggap terpaan angin itu merupakan karma baik kita) maka rasa panas dari terik matahari itu akan terasa berkurang, tetapi apakah matahari menurunkan panasnya ? tentu saja tidak tetapi angin yang berhembus itu yang mengurangi panasnya terik matahari itu. Nah itulah yang disebut dinetralisir rasa sakit itu berkurang karena ada yang mengurangi rasa sakit itu.
Nah saya akan menjelaskan lebih lanjut.
Sekarang kita renungi sejenak betapa banyak karma buruk yang telah kita perbuat tetapi jangan memikirkan karma baik yang kita perbuat. Contohnya : Jika kita menolong orang, tetapi kita menolong orang itu agar nanti orang itu dapat menolong kita, janganlah kita seperti itu karena dalam setiap perbuatan, kita harus berbuat Ikhlas yakni berbuat tanpa memikirkan tujuan. Coba kita ambil suatu fakta nyata : Jika anda melihat seorang pengemis kelaparan dijalanan dan anda memberi makan pengemis itu maka siapalah orang yang tertolong ?…………Mungkin kita berpikir yang tertolong itu adalah pengemis itu karena jika kita tak memberi makan pengemis itu mungkin ia akan mati !.Tapi itu adalah suatu fakta yang salah bukanlah pengemis itu yang tertolong tetapi kita menolong diri kita sendiri karena walaupun kita tidak memberi makan pengemis itu jika itu belum saatnya pengemis itu mati maka ia tidak akan mati ! ……..Jadi pada dasarnya kita menolong diri kita sendiri karena orang yang kurang mampu merupakan lapangan kerja bagi orang dermawan.
Saya mendapat suatu cerita yang sangat berharga yang saya dapat dari buku yang entah saya dapat dari mana. Dimana Takdir berdasrkan karma bukannya karma berdasarkan takdir. Mari kita simak . ! Percayakah anda pada ramalan garis tangan, rasi bintang, dan lain-lain. Jika tidak percaya itu wajar bagi orang biasa tapi coba kita dalami. Ketika kita terlahir didunia kita tidak membawa apa-apa, tidak ada harta ataupun yang lainny, kita hanya membawa karma baik dan karma buruk yang masih ada pada diri kita. Pertanyaannya bagaimana bisa ?……..Coba kita tatap diri kita sendiri ! Apakah anda pernah merasa iri karena kekurangan anda baik secara fisik ataupun psikis.. Pastinya pernah bukan ! Dan pernahkah anda menyadari mengapa aku terlahir seperti ini dan dia terlahir seperti itu. Apakah Tuhan itu tidak adil pikirnya ! Tetapi tuhan itu maha adil tidak ada orang yang mendapat hasil yang baik dari karma buruk ataupun mendapat hasil yang buruk dari karma baik !. Semuanya merupakan hasil dari apa yang telah kita lakukan. Jika anda masih berkata bahwa kita lahir seperti ini merupakan suatu takdir ! pasti anda mengira “mengapa takdir dia lebih bagu dari pada takdir ku !”. Janganlah anda terlena dengan lautan hidup ini, semua yang kita miliki ini adalah maya. Mari kita telusuri lagi. Anda memiliki fisik dan psikis yang seperti ini merupakan hasil dari karma kita yang lampau. Teringat ku pada sebuah cerita : Yaitu ayah dari seratus kurawa yang buta, ia memiliki 100 anak yang mati semua karena perang melawan pandawa. Mengapa ia memiliki nasib yang sangat buruk terlahir dengan mata buta dan keseratus anaknya mati semua dalam perang ?….Lalu sri Krisna tersenyum dan mulai bercerita…..Kau dahulu pada hidup masa lalu mu, engkau adalah seorang pemburu. Lalu ketika engkau masuk kedalam hutan engkau melepaskan panah api mu ke sebuah sarang burung. Didalam sarang burung itu terdapat 100 anak burung yang terbakar habis dan ketika sang induk berusaha menyelamatkan anaknya matanya terkena kobaran api dan menjadi buta.” Karena pada kehidupan mu yang selanjutnya engkau terus menambah buruk karma mu yang buruk itu maka lama kelamaan karma mu yang kecil(membunuh 100 anak burung dan membuat induknya buta) berubah menjadi karma buruk yang besar sehingga engkau mengalami nasib seperti ini.
Sehingga isilah kehidupan kita ini dengan baik bahkan sebaik-baiknya sehingga kita mendapatkan Karma Baik yang lebih besar dari Karma buruk kita sehingga dapat mencapai Surga……..


Hari Purnama Tilem

Purnama dan Tilem adalah hari suci bagi umat Hindu, dirayakan untuk memohon berkah dan karunia dari Hyang Widhi. Hari Purnama, sesuai dengan namanya, jatuh setiap malam bulan penuh (Sukla Paksa). Sedangkan hari Tilem dirayakan setiap malam pada waktu bulan mati (Krsna Paksa). Kedua hari suci ini dirayakan setiap 30 atau 29 hari sekali.

Pada hari Purnama dilakukan pemujaan terhadap Sang Hyang Chandra, sedangkan pada hari Tilem dilakukan pemujaan terhadap Sang Hyang Surya. Keduanya merupakan manifestasi dari Hyang Widhi yang berfungsi sebagai pelebur segala kekotoran (mala). Pada kedua hari ini hendaknya diadakan upacara persembahyangan dengan rangkaiannya berupa upakara yadnya.
Beberapa sloka yang berkaitan dengan hari Purnama dan Tilem dapat ditemui dalam Sundarigama yang mana disebutkan:

'Muah ana we utama parersikan nira Sanghyang Rwa Bhineda, makadi, Sanghyang Surya Candra, atita tunggal we ika Purnama mwang Tilem. Yan Purnama Sanghyang Wulan ayoga, yan ring Tilem Sanghyang Surya ayoga ring sumana ika, para purahita kabeh tekeng wang akawangannga sayogya ahening-hening jnana, ngaturang wangi-wangi, canang biasa ring sarwa Dewa pala keuannya ring sanggar, Parhyangan, matirtha gocara puspa wangi"

Ada hari-hari utama penyelenggaraan upacara persembahyangan sejak dulu sama nilai keutamaanya yaitu hari Purnama dan Tilem. Pada hari Purnama, bertepatan dengan Sanghyang Candra beryoga dan pada hari Tilem, bertepatan dengan Sanghyang Surya beyoga memohonkan keselamatan kepada Hyang Widhi. Pada hari suci demikian itu, sudah seyogyanya kita para rohaniawan dan semua umat manusia menyucikan dirinya lahir batin dengan melakukan upacara persembahyangan dan menghaturkan yadnya kehadapan Hyang Widhi.

Pada hari Purnama dan Tilem ini sebaiknya umat melakukan pembersihan lahir batin. Karena itu, disamping bersembahyang mengadakan puja bhakti kehadapan Hyang Widhi untuk memohon anugrah-Nya, umat juga hendaknya melakukan pembersihan badan dengan air.

Kondisi bersih secara lahir dan batin ini sangat penting karena dalam jiwa yang bersih akan muncul pikiran, perkataan dan perbuatan yang bersih pula. Kebersihan juga sangat penting dalam mewujudkan kebahagiaan, terutama dalam hubungan dengan pemujaan kepada Hyang Widhi.

Hari Raya Kuningan

Kuningan diperingati setiap 210 hari atau 6 bulan sekali dalam kalender Bali tepatnya pada Saniscara Kliwon Wuku Kuningan. (1 bulan dalam kalender Bali = 35 hari)
Di hari suci diceritakan Ida Sang Hyang Widi turun ke dunia untuk memberikan berkah kesejahteraan buat seluruh um

  • at di dunia. Sering juga diyakini, pelaksanaan upacara pada hari raya Kuningan sebaiknya dilakukan sebelum tengah hari, sebelum waktu para Betara kembali ke sorga.
    Kuningan adalah rangkaian upacara Galungan, 10 hari sebelum Kuningan. Pada hari itu dibuat nasi kuning, lambang kemakmuran dan dihaturkan sesajen-sesajen sebagai tanda terimakasih dan suksmaning idep kita sebagai manusia (umat) menerima anugrah dari Hyang Widhi berupa bahan-bahan sandang dan pangan yang semuanya itu dilimpahkan oleh beliau kepada umatNya atas dasar cinta-kasihnya. Di dalam tebog atau selanggi yang berisi nasi kuning tersebut dipancangkan sebuah wayang-wayangan (malaekat) yang melimpahkan anugrah kemakmuran kepada kita semua.

    Hari Raya Galungan

    Hari Raya Galungan adalah salah satu dari sekian hari Raya Hindu, yang dirayakan setiap enam bulan ( 210 hari ) sekali, pada setiap hari Rabu Buda Kliwon Wuku Dungulan .
    Hari Raya Galungan termasuk hari raya keagamaan berdasarkan pawukon / wuku .
    Menurut sumber pada lontar Sundarigama mengenai Galungan dinyatakan sebagai berikut : Buka, Ka, Galungan, nga, patitis ikang ajnama sandi, galang apadang, maryakena sarwa bya paraning idep, aturakena widi widananya ring sarwa dewa, ring sanggar parhyangan.
    Yang artinya Buda Keliwon Galungan, adalah yang mengarahkan bersatunya pikiran agar menjadi terang dan berkesadaran tinggi, untuk melenyapkan penyebab kekacauan pemikiran, dengan menghaturkan upacara-upacara kehadapan para dewa, di tempat suci, Sanggah, Merajan / Parhyangan.
    Kata Galungan berasal dari kata galang artinya perang akhirnya dari perang, menimbulkan adanya pihak yang kalah dan menang. Kaitannya dengan perayaan galungan adalah dimaksudkan untuk memperingati kemenangan dharma yang diperoleh atas perang atau pergulatan antara dharma melawan a-dharma.
    Dalam pustak lontar Usana Bali sebagai metodologi yang menyatakan tentang kemenangan Bhatara Indra dalam pertempurannya melawan raja Mayadanawa, dan kemenangan berada pada pihak Bhatara Indra, sehingga dunia dengan segala isinya dapat pulih kembali dan Galungan dirayakan sebagai hari pawedalan jagat.

    Hari Raya Siwaratri


    Perayaan Siwa Ratri adalah salah satu bentuk ritual Hindu yang mengajarkan kita untuk selalu memelihara kesadaran diri agar terhindar dari perbuatan dosa dan papa. Diakui atau tidak, manusia sering lupa, karena memiliki keterbatasan. Kerena sering mengalami lupa itu, maka setiap tahun pada sasih kepitu (bulan ketujuh menurut penanggalan Bali), dilangsungkan upacara Siwa Ratri dengan inti perayaan malam pejagraan. Pejagraan yang asal katanya jagra itu artinya sadar, eling atau melek. Orang yang selalu jagralah yang dapat menghindar dari perbuatan dosa.

    Dalam Bhagavadgita III, 42, dinyatakan, orang akan memiliki alam pikiran jernih, apabila atman atau jiwa yang suci itu selalu menyinari budhi atau alam kesadaran. Budhi (kesadaran) itu menguasai manah (pikiran). Manah menguasai indria. Kondisi alam pikiran yang struktural dan ideal seperti itu amat sulit didapat. Ia harus selalu diupayakan dengan membangkitkan kepercayaan pada Tuhan sebagai pembasmi kegelapan jiwa. Siwa Ratri (Ratri juga sering ditulis Latri) adalah malam untuk memusatkan pikiran pada Sanghyang Siwa guna mendapatkan kesadaran agar terhindar dari pikiran yang gelap. Karena itu, Siwa Ratri lebih tepat jika disebut ”malam kesadaran” atau ”malam pejagraan”, bukan ”malam penebusan dosa” sebagaimana sering diartikan oleh orang yang masih belum mendalami agama.

    Memang, orang yang selalu sadar akan hakikat kehidupan ini, selalu terhindar dari perbuatan dosa. Orang bisa memiliki kesadaran, karena kekuatan budhinya (yang menjadi salah satu unsur alam pikiran) yang disebut citta. Melakukan brata Siwa Ratri pada hakikatnya menguatkan unsur budhi. Dengan memusatkan budhi tersebut pada kekuatan dan kesucian Siwa sebagai salah satu aspek atau manifestasi Sang Hyang Widhi Wasa, kita melebur kegelapan yang menghalangi budhi dan menerima sinar suci Tuhan. Jika budhi selalu mendapat sinar suci Tuhan, maka budhi akan menguatkan pikiran atau manah sehingga dapat mengendalikan indria atau Tri Guna.

    Siwa Ratri pada hakikatnya kegiatan Namasmaranâm pada Siwa. Namasmaranâm artinya selalu mengingat dan memuja nama Tuhan yang jika dihubungankan dengan Siwa Ratri adalah nama Siwa. Nama Siwa memiliki kekuatan untuk melenyapkan segala kegelapan batin. Jika kegelapan itu mendapat sinar dari Hyang Siwa, maka lahirlah kesadaran budhi yang sangat dibutuhkan setiap saat dalam hidup ini. Dengan demikian, upacara Siwa Ratri sesungguhnya tidak harus dilakukan setiap tahun, melainkan bisa dilaksanakan setiap bulan sekali, yaitu tiap menjelang tilem atau bulan mati. Sedangkan menjelang tilem kepitu (tilem yang paling gelap) dilangsungkan upacara yang disebut Maha Siwa Ratri.

    Untuk dapat mencapai kesadaran, kita bisa menyucikan diri dengan melakukan sanca. Dalam Lontar Wraspati Tattwa disebutkan, Sanca ngaranya netya majapa maradina sarira. Sanca itu artinya melakukan japa dan membersihkan tubuh. Sedang kitab Sarasamuscaya menyebutkan, Dhyana ngaranya ikang Siwasmarana, artinya, dhyana namanya (bila) selalu mengingat Hyang Siwa.

    Di India, setiap menjelang bulan mati (setiap bulan) umat Hindu menyelenggarakan Siwa Ratri dan tiap tahun merayakan Maha Siwa Ratri. Keutamaan brata Siwa Ratri banyak diuraikan dalam pustaka berbahasa Sanskerta, Jawa Kuno dan Bali. Ini suatu pertanda, bah-wa Siwa Ratri dari sejak dahulu sudah dirayakan baik oleh umat Hindu di India, maupun di Jawa dan Bali. Dalam kepustakaan Sanskerta, keutamaan brata Siwa Ratri diuraikan dalam kitabkitab Purana, misalnya Siwa Purana, Skanda Purana, Garuda Purana dan Padma Purana. Siwa Purana, pada bagian Jñana Samhita memaparkan keutamaan brata Siwa Ratri dan tata-cara merayakan malam suci terbut. Di situ ada dimuat tentang dialog antara seseorang bernama Suta dan para rsi. Dalam percakapan tersebut, dikisahkanl seseorang yang kejam bernama Rurudruha. Ia menjadi sadar akan dosa-dosa yang telah diperbuat setelah melakukan brata Siwa Ratri. Berkat bangkitnya kesadarannya, ia tinggalkan semua perbuatan dosa, lalu dengan mantap berjalan di jalan dharma.

    Di antara berbagai brata, mengunjungi tempat suci, memberi dana punya yang mahal seperti batu mulia (emas dan permata), melakukan berbagai jenis upacara Yajña, berbagai jenis tapa dan melakukan berbagai kegiatan Japa atau mantra untuk memuja keagungan-Nya,semuanya itu tidak ada yang melebih keutamaan brata Sivaratri.

    Sejalan dengan pernyataan di atas, kakawin Sivaratri Kalpa menyatakan keutamaan Brata Sivaratri seperti diwedarkan oleh Sang Hyang Siva sebagai berikut:

    ”Setelah seseorang mampu melaksanakan Brata sebagai yang telah Aku ajarkan, kalahlah pahala dari semua upacara Yajña, melakukan tapa dan dana punya demikian pula menyucikan diri ke tempat-tempat suci, pada awal penjelmaan, walaupun seribu bahkan sejuta kali menikmati Pataka (pahala dosa dan papa), tetapi dengan pahala Brata Sivaratri ini, semua Pataka itu lenyap”.

    ”Walaupun benar-benar sangat jahat, melakukan perbuatan kotor, menyakiti kebaikan hati orang lain, membunuh pandita (orang suci) juga membunuh orang yang tidak bersalah, congkak dan tidak hormat kepada guru, membunuh bayi dalam kandungan, seluruh kepapaan itu akan lenyap dengan melakukan Brata Sivaratri yang utama, demikianlah keutamaan dan ketinggian Brata (Sivaratri) yang Aku sabdakan ini” (Sivaratri kalpa, 37, 7-8)*

    Sumber Sastra itihasa Dalam Itihasa, Sivaratri terdapat dalam Mahabharata, yaitu pada Santi Parva, dalam episode ketika Bhisma sedang berbaring di atas anak-anak panahnya Arjuna, menunggu kematian, sambil membahas dharma, mengacu kepada perayaan Maha Sivaratri oleh raja Citrabhanu, raja Jambudvipa dari dinasti Iksvaku. Raja Citrabhanu bersama istrinya melakukan upavasa pada hari Maha Sivaratri. Rsi Astavakra bertanya:

    “Wahai sang raja, mengapa kalian berdua melakukan upavasa pada hari ini? Sang raja dianugerahi ingatan akan punarbhawa sebelumnya, lalu ia menjelaskan kepada sang rsi.

    “Dalam kehidupanku terdahulu aku adalah seorang pemburu di Varanasi yang bernama Susvara. Kebiasaanku adalah membunuh dan menjual burung-burung dan binatang lainnya. Suatu hari aku berburu ke hutan, aku menangkap seekor kijang, namun hari keburu gelap. Aku tidak bisa pulang, kijang itu kuikat di sebatang pohon. Lalu aku naik sebatang pohon bilva. Karena aku lapar dan haus, aku tidak dapat tidur. Aku teringat anak istriku yang malang di rumah, menungguku pulang dengan rasa lapar dan gelisah. Untuk melewatkan malam aku memetik daun bilva dan menjatuhkannya ke tanah.” Kisah selanjutnya mirip dengan kisah Lubdaka di Indonesia.

    Purana
    Sivaratri juga dimuat dalam purana-purana, yang umumnya berisi kisah-kisah pemburu yang sadar, seperti berikut:

    Pertama, Siva Purana (bagian Jnanasamhita). Pada bagian ini memuat percakapan antara Suta dengan para rsi, menguraikan pentingnya upacara Sivaratri. Seseorang bernama Rurudruha seperti telah disinggung di atas.

    Kedua, Skanda Purana (bagian Kedarakanda). Pada bagian Kedarakanda antara lain memuat percakapan antara Lomasa dengan para rsi. Lomasa menceritakan kepada para rsi tentang si Canda yang jahat, pembunuh segala mahluk, sampai membunuh brahmana, akhirnya dapat mengerti dan menghayati apa yang disebut ”kebenaran” Dalam Skanda Purana juga diceritakan kisah seorang pemburu yang identik dengan kisah pemburu dalam Santi Parva.

    Ketiga, Garuda Purana (bagian Acarakanda). Bagian ini memuat uraian singkat tentang Sivaratri diceritakan bahwa Parvati bertanya tentang brata yang terpenting. Siva menguraikan tentang pelaksanaan vrata Sivaratri. Seorang raja bernama Sudarasenaka pergi berburu ke hutan bersama seekor anjing. Rangkaian kisah inipun tidak berbeda dengan kisah pemburu di atas.

    Keempat, Padma Purana (bagian Uttarakanda). Bagian ini memuat percakapan raja Dilipa denganWasista. Wasista menceritakan bahwa Sivaratri adalah vrata yang sangat utama, antara bulan Magha dan Palghuna. Dalam Padma Purana, pemburu itu bernama Nisadha. Berkat vrata Sivaratri yang dilakukannya berhasil membawanya ke Siva loka.

    Hari Raya Saraswati

    Hari raya ini khusus ditujukan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa / Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Aji Saraswati, Dewi Ilmu pengetahuan dan sastra.
    Hari raya ini dirayakan sekali dalam enam bulan atau 210 hari (sesuai kalender Bali yaitu pada Sabtu Umanis Watugunung) . Setiap orang mempersembahkan sesajen di buku-buku, lontar dan benda benda lain yang berhubungan dengan sastra dan ilmu pengetahuan sebagai rasa syukur atas turunnya ilmu pengetahuan dan sebagai penghormatan kepada ilmu pengetahuan.
    Sehari setelah hari saraswati disebut hari Banyu Pinaruh, yang berarti air pengetahuan di mana filosofinya adalah pada saat manusia tersebut sudah menguasai ilmu maka dia diwisuda yang memiliki simbolisasi dibersihkan dari sisa kekotorannya, dijernihkan pikirannya lewat prosesi melukat di sungai, atau laut, atau sumber mata air lainnya. Simbolisasi di sungai karena diharapkan ilmu yang telah dipelajari saat saraswati bisa mengalir lancar, simbolisasi di laut bermakna agar ilmu yang dipelajari bisa membuat pengetahuan kita luas dan dalam serta bisa menjadi peleburan segala kebodohan dan awidya, simbolisasi di mata air karena diharapkan ilmu yang kita pelajari bisa menjadi sumber pencerahan, kehidupan tidak hanya bagi diri sendiri tetapi juga masyarakat banyak dan ilmu yang diperoleh manusia seharusnya dimanfaatkan untuk hal-hal yang baik di jalan dharma.
     

    Like Facebook

    Followers

    Visitor

    free counters